19
0

9 Desember 2021

19

Roh Kudus terus mengingatkan agar kehidupan ini dijalani dengan “prinsip kematian daging dan melepaskan hak”. Sebab jika kita terus mempertahankan hak untuk dihargai, dihormati, dan dipahami, maka sudah pasti kita tidak akan pernah bisa menikmati kehidupan yang penuh dengan realita Kerajaan Surga. Pasti ada saja perasaan terluka, kecewa, dan marah ketika berinteraksi dengan sesama.

Kita tidak mungkin bisa mengendalikan perasaan orang, bahkan sikap dan tindakan kita bisa saja disalahpahami. Jika hari – hari hidup kita terus diisi konflik, perkataan buruk, dan emosi negatif, maka cepat atau lambat hidup kita akan menjadi rusak. Tidak hanya alami gangguan kejiwaan, tapi besar kemungkinan tubuh kita terserang penyakit. Pendek kata, maut akan terus menggerogoti kehidupan kita.

Mata saya seperti terbuka bahwa sebenarnya musuh sedang bekerja dengan giat untuk mengikis KASIH dalam diri kita. Baik itu dalam keluarga, masyarakat, maupun kehidupan berbangsa. Konflik sedang terus digulirkan bagaikan bola salju yang makin membesar. Tiba – tiba saya pun melihat ada suatu panggung besar yang berisi pertunjukan kehidupan yang sangat kacau dan penuh kemarahan serta kebencian. Saling menyalahkan dan saling memaki menjadi suara yang menyakitkan telinga dan batin. Saya melihat mereka ternyata didalangi oleh pribadi yang sangat jahat. Mereka patuh mengikuti setiap instruksi dan arahannya. Tapi saya juga melihat ada orang – orang yang tidak bisa digerakkan oleh pribadi tersebut, itulah orang – orang yang sudah mati.

Segera setelah itu saya melihat orang – orang yang sudah mati tersebut ada di panggung lainnya, tapi mereka dalam kondisi yang hidup. Di panggung itu mereka penuh senyum, tawa, dan sukacita besar. Penglihatan itu membuat saya jadi sangat paham bahwa saya harus membangun mental sebagai orang yang sudah mati terhadap dosa (Roma 6:11). Mati dari cinta diri sendiri, cinta uang, dan cinta dunia. Serta melepaskan hak untuk dihargai, dihormati, dan dipahami. Sebab saat kita “SUDAH MATI”, maka iblis, dosa, dan maut bukan lagi tuan kita (Roma 6:1-23). Jadi apa pun yang menjadi rencana mereka tidak akan pernah berlaku atas kita.

Bahkan ketika kita diperlakukan dengan sangat buruk, kasar, ataupun direndahkan dan tidak dipahami, semua hal tersebut tidak bisa lagi menyakiti diri kita, sebab kita sudah mati. Pada saat bersamaan kita sanggup bersyukur, tetap bersukacita, dan bisa tetap melepaskan kasih ilahi yang tidak pernah berkesudahan.

Saya menjadi paham bahwa kekacauan di keluarga, masyarakat, dan dunia ini disebabkan oleh hati manusia yang pahit. Masalah demi masalah seolah bagai benang kusut yang tidak bisa lagi dibenahi. Tapi KASIH TUHAN sanggup memulihkan segala sesuatu.

Amsal 10:12 (TB)  Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran.

Amsal 17:9 (FAYH)  Kasih melupakan kesalahan; membangkit-bangkit kesalahan memutuskan persahabatan yang paling akrab sekalipun.

1 Petrus 4:8 (VMD)  Yang terpenting dari semuanya, kamu sungguh-sungguh saling mengasihi, karena kasih membuat kamu bersedia mengampuni banyak dosa.

Tanpa menyadari keberadaan kita yang sebenarnya SUDAH DIPERSATUKAN DALAM KEMATIAN KRISTUS, maka hidup kita sehari – hari akan memanifestasikan kebencian dan amarah. Namun saat kita sadar bahwa diri kita SUDAH MATI, maka pada saat itu juga KEHIDUPAN KASIH itu akan terpancar dari dalam batin kita untuk memulihkan hidup banyak orang.

Jadi, jalanilah hidup dalam kematian daging dan penyerahan hak, maka kehidupan kita akan menjadi sarana KASIH TUHAN UNTUK MEMULIHKAN SEGALA SESUATU DI ATAS BUMI INI. Amin!

#AkuCintaTuhan

Ps. Steven Agustinus

__

Dapatkan renungan harian Ps. Steven Agustinus (text, quote & audio) setiap harinya melalui Whatsapp Anda, dengan cara mendaftarkan diri:
Nama, Kota, No Whatsapp
Kirim ke nomor 0888-6132-106

Atau langsung klik link berikut ini: https://wa.link/homdvi

Leave a Reply

Your email address will not be published.