Luka Hati dari Masa Lalu

Orang yang tidak membereskan luka hatinya akibat benturan kehidupan di masa lampau akan selalu membawa aura konflik yang membuat dirinya banyak berkonflik dengan orang sekitarnya. Hal – hal kecil yang sebetulnya tidak perlu jadi masalah, akan dibuat menjadi masalah besar. Itulah manifestasi orang yang terluka, selalu merasa ‘tersakiti’ dengan tingkah, sikap, dan tindakan orang lain. 

Masalah di atas kelihatan cukup sepele dan dianggap hal ‘wajar’. Namanya manusia, wajar saja jika sakit hati, marah, kecewa – itulah anggapan dari cetakan dunia yang selama ini membentuk banyak kehidupan orang percaya. Bayangkan, jika hal tersebut tidak pernah tuntas, maka agenda Tuhan akan terhambat hanya karena ‘mengurusi’ orang – orang yang tidak utuh hidupnya. Energi kita terkuras bukan untuk kehendak Tuhan, melainkan untuk memberesi orang – orang yang berkonflik. Itu bukan kehendak Tuhan atas diri kita.

Jadi tidak bisa tidak, kita mesti sadar bahwa diri kita bukan lagi manusia biasa, melainkan manusia Allah yang telah dilahirkan oleh Roh dan berasal dari kebenaran. Di mana kehidupan kita yang lama sudah berlalu atau sudah mati dan kehidupan kita yang saat ini kita jalani adalah hidup oleh iman. Artinya seluruh keberadaan diri kita sudah sewajarnya dipenuhi oleh pekerjaan Roh dan Firman setiap hari.

Sekali lagi Roh menegaskan, jangan anggap ‘wajar’ hati yang berkonflik. Itu merupakan pekerjaan roh – roh jahat yang memang ingin membuat kita jadi pribadi yang memancarkan kepahitan! Roh-roh itu sedang terus bekerja di dalam kehidupan sehari-hari kita. Saat kita menganggap kemarahan dan kekecewaan merupakan hal yang wajar, maka pada saat itulah kita sedang ‘minum air pahit dr dunia ini’.

 Malaikat ketiga meniup terompetnya, lalu sebuah bintang besar yang menyala seperti obor jatuh dari langit. Bintang itu menimpa sepertiga dari jumlah sungai dan mata air di bumi. Nama bintang itu adalah Kepahitan. Dan sepertiga dari semua air menjadi sangat pahit, sehingga banyak orang mati karena minum air pahit itu. 

Perempuan Samaria merupakan gambaran orang yang mengalami banyak benturan hidup, kekecewaan, dan penolakan yang sedemikian rupa terjadi atas dirinya. Ia memiliki banyak suami dan menjadi cibiran masyarakat. Ada kerusakan mental yang sangat parah. Sudah menjadi agenda Bapa untuk Yesus atau sang Firman memerdekakan perempuan tersebut.

 Ia harus melintasi daerah Samaria. Maka sampailah Ia ke sebuah kota di Samaria, yang bernama Sikhar dekat tanah yang diberikan Yakub dahulu kepada anaknya, Yusuf. 
Di situ terdapat sumur Yakub. Yesus sangat letih oleh perjalanan, karena itu Ia duduk di pinggir sumur itu. Hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang perempuan Samaria hendak menimba air. Kata Yesus kepadanya: “Berilah Aku minum.”

Lakukan pengecekan dalam diri kita. Aliran apa yang sesungguhnya sedang mengalir dari dalam diri kita? Jika kita mendapati masih banyak aliran kebencian dan kekesalan serta kepahitan yang tidak kunjung berhenti, maka ini saat yang tepat untuk mengalami kemerdekaan. Jangan anggap wajar kondisi seperti ini dan jangan minum lagi dari air tersebut! Itu adalah aliran kematian! Arahkan hidup kita pada pribadi Roh Kudus. Ia akan menuntun kita untuk mengalami kemerdekaan dari berbagai konflik batin!

  1. Ia akan menuntun kita mengalami pertobatan (kesadaran penuh bahwa kebencian ataupun kepahitan merupakan dosa yang harus ditinggalkan), dan memberikan kepada kita hati yang baru, penuh dengan kasih Bapa yang telah mengampuni segala kesalahan kita.
  2. Mengajarkan kita untuk memanifestasikan sifat yang penuh pengampunan dan menuntun kita berbicara dengan menggunakan kata – kata yang tepat, di mana kata – kata tersebut mengandung kehidupan yang memerdekakan hidup banyak orang.
  1. Roh akan memberikan kepada kita hati yang haus dan lapar akan Firman serta realita-Nya, sehingga dari dalam batin kita akan selalu memprioritaskan hubungan atau persekutuan dengan Tuhan. Ada tekad yang kuat untuk memastikan setiap hari ada aliran – aliran air hidup selalu terpancar dengan deras. Ada kesadaran akan realita Tuhan yang mencengkeram batin dengan sangat kuat. Jika Tuhan menjadi sangat nyata dalam batin dan pikiran kita, maka tidak ada ruang untuk kepahitan.

Sekian waktu lamanya ada banyak gereja terus me-maintain hati orang – orang yang penuh konflik batin dengan cara-cara motivasional (minum air dari dunia ini), tapi sekarang waktunya untuk umat berjumpa dengan Sang Firman hidup. Di mana suara Tuhan dari ruang takhta akan memerdekakan mereka dan membuat mereka mengikuti tuntunan Roh Kudus yang memberikan sumber mata air yang penuh kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita yang terus memancar tanpa henti!

Inilah waktunya kita muncul sebagai anak – anak Allah yang membawa perdamaian di tengah dunia yang penuh dengan konflik! Itulah perbedaan diri kita dengan dunia ini. Tuhan akan membedakan kita, dan orang lain akan melihat dan mengalami perjumpaan dengan sang Raja Damai melalui diri kita, anak – anak Allah! Mereka akan melihat dan mengingini kehidupan kita yang penuh kebahagiaan sejati!

Ps. Steven Agustinus

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Chat kami
Scroll to Top