Cinta yang Abadi

Saya belajar sesuatu, ternyata yang berhak dan secara tepat menilai diri kita apakah telah mengasihi Tuhan atau tidak adalah keberadaan Tuhan sendiri. Sebab siapa yang tahu hati ini? Bisa jadi karena satu dan lain hal, hati kita telah bergeser, dari hati yang mencintai Tuhan menuju cinta diri sendiri, cinta uang, dan cinta dunia.

Yeremia 17:9-10 (FAYH) “Hati manusia lebih licik daripada segala sesuatu dan jahatnya tidak kepalang. Siapakah yang dapat memahaminya? Hanya Aku, TUHAN, yang dapat menyelidiki hati dan menguji batin yang paling dalam sekalipun. Aku memberi setiap orang pahala yang setimpal dengan perbuatannya. “

Pagi ini saya bertanya kepada Tuhan, apakah saya masih mengasihi Tuhan? Atau jangan – jangan hati saya telah mengasihi yang lain? Apa yang menjadi barometer saya mengasihi Tuhan?

Saat saya mencari Firman tertulis tentang hati yang mengasihi Tuhan, banyak sekali ayat Firman yang bisa menjadi baromoter, tapi dalam hati, saya merasa seperti ada yang belum ‘klik’. Karena bisa saja saya terlihat ‘melakukan perintah Tuhan’ sebagai bukti bahwa saya mengasihi Tuhan tapi ternyata hati saya telah menjauh daripada-Nya.

Namun ada satu ayat yang berbicara cukup kuat dalam batin saya :

Efesus 5:31-32 (TB) Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.

Dalam hubungan pernikahan, ada hal yang melebihi perasaan cinta yang mesti selalu ada dalam batin kita, yaitu ‘Trust’. Mau semenjengkelkan apa pun pasangan kita, ‘percayalah’ bahwa ia adalah seorang yang sangat mengasihi diri kita. Jika kita ‘memegang keyakinan’ tersebut, maka mau ‘bertengkar’ seperti apa pun, suami dan istri akan dengan cepat kembali harmonis sebab sesungguhnya mereka adalah satu! Namun saat ‘keyakinan’ terhadap pasangannya hilang, maka saat itulah ‘cinta terhadap yang lain’ mulai masuk!

Perintah yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Namun menariknya yang Tuhan cari di bumi adalah ‘IMAN’, bukan cinta. Jadi mungkin saja kita berkata bahwa kita mengasihi Tuhan, tapi jika Tuhan tidak menemukan IMAN maka sesungguhnya kita tidak mengasihi Dia.

Sekarang kita bisa cek diri kita: Terkadang saat kita bersekutu dengan Tuhan, ternyata belum tentu karena kita PERCAYA, lebih sering justru karena kita takut tidak diberkati, takut kehilangan urapan, takut kehilangan harta ataupun takut kehilangan orang yang kita kasihi! Akibatnya hubungan kita dengan Tuhan berdasarkan ketakutan, bukan IMAN dan ada banyak KONFLIK di hati dengan Tuhan! Hidup dan persekutuan kita dengan Tuhan jadi tidak tenang atau kita tidak bisa menikmatinya.

Saya jadi belajar sesuatu, kasih terhadap Tuhan perlu dibangun, yaitu dibangun dengan Firman yang menimbulkan iman.

1. Betapa penting untuk kita dengan tenang bersekutu dengan Tuhan sampai kita mendengar Dia berfirman!
2. Betapa penting untuk diri kita membaca Firman tertulis dengan rasa lapar dan haus akan kebenaran.
3. Betapa penting untuk kita melibatkan Roh Kudus (mendoakan ayat Firman dan Firman yang kita dengar dari mulut Allah). Roh Kudus adalah pribadi yang ahli membangun hati yang mencintai Tuhan! Dialah yang akan membukakan pengenalan akan Tuhan melalui Firman yang kita terima sehingga muncul IMAN!

Galatia 2:20 (TB) namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.

Dari pihak Kristus, tidak perlu kita ragukan lagi cinta-Nya kepada kita! Tapi dari pihak kita perlu membangun iman dan menjalani hari – hari dalam iman kepada Dia.

Sehingga bukan kita lagi yang hidup, melainkan Kristus! Saat Kristus nyata dalam diri kita, maka cinta kita kepada-Nya bukan lagi cinta manusiawi yang bisa hilang dan pergi, melainkan cinta yang sifatnya abadi atau kekal.

Begitulah keberadaan Tuhan yang mengasihi kita, Ia tidak bisa membenci diri kita! Sebab Ia adalah kasih. Saat cinta kita dengan Dia menjadi satu (kekal keduanya atau ada dalam satu frekuensi), maka diri kita dengan-Nya pun menjadi satu!

Yeremia 31:3 (TB) Dari jauh TUHAN menampakkan diri kepadanya: Aku mengasihi engkau dengan kasih yang kekal, sebab itu Aku melanjutkan kasih setia-Ku kepadamu.

Ini waktunya kita menjalani hidup dengan PERCAYA!! Orang benar akan hidup oleh iman!

Ps. Steven Agustinus

Similar Posts

  • Menyelaraskan Diri dengan Agenda Tuhan

    Saat saya kembali mendoakan ayat di atas, saya mendapatkan beberapa impresi : ‘Mendengar’ suara Tuhan dengan jelas merupakan hal penting yang seharusnya berfungsi dengan baik pada kalangan orang percaya. Sebab suara Tuhan atau firman-Nya akan menentukan hidup, jati diri, dan peranan serta fungsi kita di dalam Dia! Jika kita tidak ada dalam frekuensi surga, maka…

  • 31 Januari 2023

    Yesaya 40:11 (TB) Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati. Tuhan akan membawa umat pilihan-Nya masuk dalam suatu fase kehidupan, di mana hidup mereka akan alami kedaulatan dan pemeliharaan-Nya yang sempurna. Engkau tidak akan mendapati adanya kekurangan di dalam hidupmu. Penggenapan firman di…

  • 28 Januari 2023

    Kalimat “money will fail” berbicara kembali dalam batin saya, dengan penjelasan yang saya terima: Perhatikan bagaimana ‘berkuasanya’ orang kaya, mereka bisa melakukan apa pun dengan uang yang mereka miliki. Bahkan mereka bersikap dan berpenampilan seperti apa pun juga, semua orang bisa memakluminya. Itulah ‘kuasa’ yang sanggup mempengaruhi perasaan dan pikiran orang lain. Orang yang ada…

  • BERHENTI MEMIKIRKAN MASALAH!

    Kita perlu melatih ulang pikiran kita agar berasosiasi dengan kehidupan, bukan kematian! Dengan demikian, kehidupan kita akan senantiasa sehat, penuh damai sejahtera, dan sukacita. Sesungguhnya kita tidak pantas menjalani hidup penuh beban berat dan permasalahan, sebab pada dasarnya apa pun permasalahan yang kita alami, seharusnya ada ‘di luar’ kita, tidak boleh ada ‘di dalam’ kita….

  • PUSAT KEGERAKAN TUHAN

    Saya mendapati betapa pentingnya pelatihan membangun manusia rohani untuk ‘ter-install’ dengan sempurna ke dalam hidup kita sebagai orang percaya. Jika ‘pelatihan ini’ sungguh – sungguh dipraktekkan secara akurat, maka berbagai ‘permasalahan’ yang seringkali ‘dapat membahayakan kegerakan yang ada’ tidak perlu muncul. Seperti contoh permasalahan: Seandainya kita sungguh – sungguh membangun manusia rohani seperti yang tertulis…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *